Wahana Jalan Tikus

wjt
Siapa suruh datang Jakarta!

Saya mendapati tulisan ini terpampang besar sekali di kamar kost salah seorang kawan saya dari kampung halaman sana, yang sama seperti saya, menjadi perantau di kota Jakarta. Ditulis ala kadarnya dengan cat hitam, tulisan kawan saya ini terlihat bernilai seni sangat rendah sekali (juelek buanget, fren!). Sungguh. Tulisan itu berdampingan dengan deretan aneka ragam poster group band (yang katanya) favorit teman saya. Saya sih kurang begitu yakin! Palingan dia dapet dari tukang jualan poster di pasar. Karena dilihatnya bagus, ya dibeli aja buat keren-kerenan di kamar. Hihihi. Kamar kawan saya ini, kalau dinilai dari ukuran kamar seorang pria bujang, boleh lah dibilang sudah cukup rapi. Hanya saja kok bernada muram ya kalau menurut saya. Hehe. No offense, kawan! Piss.

Kami –saya dan teman saya ini– adalah pasukan suka rela yang datang ke Jakarta tanpa di undang. Hanya bermodal nekat dan sedikit asa untuk merubah kehidupan, kami maju berangkat mengadu nasib menuju rimba raya metropolitan. Bekalnya cuma badan sehat dan doa dari orang tua. Haha.

Kalau kalian tahu, fren, di kota Metroplutan ini, saya dan kawan saya ini hanya dua diantara beribu orang nekat yang nekatnya sama seperti kami. Ngga percaya? Kalau kalian tidak percaya, silahkan lihat saja jalanan Jakarta di pagi dan sore hari. Saat jam berangkat dan pulang kerja! Maka, akan kalian lihat berduyun-duyun orang dengan tongkrongan yang hampir sama: motor, jaket, pelindung wajah, helm, dan atribut bermotor lainnya, padat merayapi jalanan ibukota. Percaya sekarang? Ya, itu lah kumpulan orang nekat, fren! NEKATOR.

Biker-biker ibukota! Kawan saya menyebutnya begitu. Kami akrab dengan debu dan emosi Jakarta. Panas ataupun banjir itu hanya pelengkap perjalanan. Lumrah adanya. Hal yang biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan. Ngga boleh ngeluh. Karena kami datang kesini dengan sukarela, jadi ya harus siap dengan segala resiko yang ada. Tidak boleh menyisakan sedikit pun ruang untuk kami mengeluh. Kalau ngga suka, silahkan pulang sana ke kampung halaman. Tidak akan ada yang melarang kok. Sadis ya? Memang iya. Hehe. Jakarta keras, bung!

Tapi sekeras-kerasnya Jakarta, tetap saja ada cerita-cerita menarik di dalamnya. Tidak melulu berisi tentang “kegilaan” yang terjadi terhadap manusia-manusia yang meninggalinya. Ada hal-hal “manusiawi” juga yang terjadi. Sama seperti kalau kita tinggal di kota-kota lain. Kalau menurut saya sih, tinggal di Jakarta itu sama saja kayak kita hidup di kota-kota lain. Hanya saja, yang membedakannya adalah, kadar “gila” di kota ini berada di level yang paling max di banding tempat lain. Ups! Itu hanya pendapat saya saja, fren! Terbuka ruang lebar untuk kalian mendebat ataupun tidak setuju. Bebas.

Buat saya, setelah saya mengamati dan menjadi pelaku di dalamnya, menjadi biker pulang-pergi kerja di Jakarta itu tidak selalu menyebalkan kok. Memang sih, kalau lagi emosi tingkat tinggi, bawaannya pingin nubruk-nubrukin aja semua orang yang nyebelin di jalan. Tapiiii, kalau hati lagi adem dan bawa motornya ngga keburu-buru, ada banyak hal yang sebenarnya bisa kita nikmatin di jalan. Buanyak banget! Tinggal kitanya aja mau mengamati dan menikmatinya atau tidak.

Salah satu hal yang akhir-akhir ini saya nikmati adalah blusukan di jalanan kampung-kampung demi menghindari macet. Nyempil di jalan-jalan kecil di gang-gang perkampungan, manuver (sok-sok) keren, dan sedikit bergaya bak Valentino Rossi KW 3 sedang beraksi. Hahaha. Karena jalanan yang saya lalui untuk pulang pergi kerja itu sering macet parah. Suer ewer-ewer. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Tapi karena macet, jarak tempuhnya jadi lama. Jadi ya mau tidak mau saya harus mencari alternatif jalan lain.

Salah satu “indahnya” dari mencari jalan alternatif ini adalah, saya harus menerka-nerka jalan baru, memetakkan posisi, mencoba memperkirakan, kira-kira kalau lewat jalan ini saya akan tembus dimana. Sering saya berhasil mendapat alternatif jalan baru. Tetapi tidak kalah sering saya nyasar kemana-mana. Hehe. Harap maklum lah. :p

Dan saya tidak sendiri, fren jadi tukang nyempil di jalanan Jakarta. Ada banyak orang yang melakukan hal sama seperti saya. Kami adalah: Nyempilers Rangers. Hehe, istilah yang aneh! Bahkan, grup band indie asal Jakarta, Morfem, sampai membuat lagu khusus lho tentang manusia nyempilers seperti saya ini. Judul lagunya Wahana Jalan Tikus. Keren lah pokoknya. Saya jadi punya theme song kalau lagi “nyempil-nyempil” di jalanan. 😀

Entah sudah band indie yang keberapa Morfem ini, yang menciptakan lagu tentang pernak-pernik lika-liku kehidupan Jakarta. Tapi setahu saya, Morfem ini band pertama yang bercerita tentang perjalanan motor nyempil-nyempil di gang. Koreksi saya ya kalau salah.

Weleh, kok jadi panjang begini ya cerita saya? Kalau begitu, mending kita tutup saja tulisan ini dengan nyanyi lagunya Morfem. Wahana Jalan Tikus. 

Wahana Jalan Tikus
Semua orang rebutan di depan
Di jalan raya yang kian sempit
Kendaraan bertambah tiap jam
Diiringi klakson hingar bingar

Oh, jalan tikus menjadi pilihan
Minimalkan panas yang menyinari

Mengurangi geram, umpatan tertekan,
Jalan tikus sebuah pelarian

Hanya muat sebuah kendaraan
Anak kecil bermain dalam gang
Tiada halaman di setiap rumah
Keluar pintu berjumpa selokan

Oh, jalan tikus menjadi pilihan
Dunia baru telah dipaparkan

Lewati wahana  yang sungguh berbeda
Jalan tikus tlah membuka mata

Oh, jalan tikus menjadi pilihan
Kupelankan roda dua melaju

Gang ini adalah taman bermain mereka
Tertawa bersama teman-teman

*****


sumber gambar

2 pemikiran pada “Wahana Jalan Tikus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s