Radio, TV dan (Kopi)

Di pelosok kampung halaman saya sana, waktu saya kecil dulu, tidak banyak tersaji pilihan hiburan seperti layaknya di kota-kota besar. Di kampung halaman saya dulu, “kecanggihan-kecanggihan” selalu datang lebih belakang di banding tempat-tempat lain. Televisi, video player dan mainan-mainan “canggih” lainnya, datangnya telat. Telat banget malahan. Karena apa-apa yang sudah ketinggalan jaman di kota-kota besar, bisa jadi baru booming di tempat kami. Atau bahkan masih belum ada. Hehe. Kasian banget!

Tapi kami menikmati masa kecil kami kok. Tidak ada kecanggihan bukan berarti tidak bahagia. Dan kawan-kawan yang tumbuh dengan kecanggihan bukan berarti juga mereka tidak bahagia. Kami sama-sama bahagia. Hanya medium kebahagiaannya saja yang berbeda. Ceilah! Bahasa gw dah.

Menurut saya sih ya, ketiadaan kecanggihan dalam kehidupan masa kecil kami justru memicu kreatifitas kami untuk membuat aneka ragam hiburan ala kami sendiri. Bermain dengan segala jenis mainan yang “hanya” mengandalkan apa yang disediakan oleh alam, serta dibumbui dengan sedikit imajinasi kanak-kanak kami. Jadilah mainan alami kami.

Mungkin, sama seperti kami yang tumbuh kembang dengan tidak mengenal kecanggihan, kawan-kawan yang tumbuh dewasa di kota besar juga tidak mengenal “mainan alami” ala kami. Hehe. Ya iya lah. Tempatnya aja jauh-jauhan kan ya? Gimana mereka bisa tahu!

Tapi seiring berjalannya waktu, hal-hal canggih itu akhirnya masuk juga di kampung halaman kami. Meski belum tentu juga bisa memilikinya. Faktor ekonomi membuat tidak semua orang bisa memiliki hal-hal “canggih” itu. Seperti televisi contohnya. Pada mulanya, televisi di kampung halaman saya adalah barang mahal. Tidak semua rumah bisa memilikinya.

Saya ingat betul waktu itu, acara nonton TV di kampung saya itu bisa heboh dan ramai sekali layaknya acara nonton layar tancep di lapangan besar. Ya disebabkan karena memang masih jarangnya rumah yang memiliki televisi. Karena barang mahal itu tadi. Apalagi kalau acaranya bagus, penontonnya bisa lebih membludak lagi. Ruame lah pokokke.

Bisa kawan-kawan bayangkan lah, TV yang ukurannya hanya 14 inchi,  tapi yang nonton penuh memadati ruang tamu. Bahkan luber sampai ke depan-depan, lesehan di emperan rumah. Entah yang duduk di emperan rumah itu bisa keliatan apa engga? Atau memang cuma pengen ikut rame-ramean doang. Edaaan to? Tapi pada waktu itu sih normal-normal saja buat saya dan semua orang.

Tapi berbeda dengan televisi yang masih dianggap barang mahal, pada waktu itu radio sudah jamak di temukan di setiap rumah. Menjadi hiburan yang menemani dari pagi hingga menjelang tidur. Bahkan sampai “menunggui” kita yang sedang tidur di malam hari.  Maksudnya, kitanya tidur, tapi radionya on terus ngga pake istirahat sampai pagi lagi. Hehe.

Saking seringnya saya denger radio, saya dulu sampai sempet bercita-cita pengen jadi penyiar radio. Karena menurut saya, penyiar radio itu keren. Penyiar radio itu salah satu tipikal orang yang sangat baik dan bisa menjadi teman bagi siapa saja. Orang yang sedang begadang ronda, orang yang sedang begadang belajar, orang yang kerja shift malam, orang-orang yang sedang patah hati  dan ngga bisa tidur, sampai orang-orang insomnia.  Semuanya ditemani penyiar radio. Keren kan?

Bahkan saya sampai mengidolakan penyiar radionya segala. Suaranya yang syahdu itu lho, trus pembawaannya yang asyik kalau lagi siaran. Apalagi ya? Cantik, brai! Eh, belum tentu ding kalau cantik. Saya kan suka karena suaranya. Jadi ngga tahu cantik apa engga? Lha wong  ngga keliatan wajahnya juga di radio. Hehe. Cantik suaranya sih yang pasti.

Gara-gara itu, saya jadi jatuh cintrong sama acaranya, trus kecanduan deh untuk selalu mendengarkan siarannya. Hihi. Sebenarnya sampai sekarang pun saya masih suka dengerin radio kalau pagi-pagi sebelum berangkat kerja. Atau kalau malem-malem saya lagi bengong sendiri di kostan. Cuma memang ngga seintens kayak dulu. Saya sempat punya idola penyiar baru juga, salah satu penyiar radio di Jakarta. Suaranya cantik, men! Haha. Ah, sudahlah!

Cuma sayang, sampai sekarang belum ada kesempatan yang datang kepada saya untuk mencicipi bagaimana indahnya menjadi penyiar radio. Hehe. Semoga bisa keturutan, meskipun entah kapan. 😀

sumber gambar: gambar atas | gambar bawah

2 pemikiran pada “Radio, TV dan (Kopi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s