Bangku Kereta (2D)

Bangku 3D di gerbong 4. Aku menemukanmu disitu, di kursi yang seharusnya menjadi tempat dudukku. Tidak ada senyum disitu, hanya sebaris kalimat bernada tanya yang meluncur "duduknya dimana?". Itu kamu yang nanya. "Disitu". Dengan isyarat kepala aku menunjuk tempat duduk dimana kamu berada sekarang. "Saya disini sebentar ya". "Tapi nanti saya disitu lagi ya" itu … Lanjutkan membaca Bangku Kereta (2D)

Jumat Ngaco

Friday I'm In Love.  Jumat lagi, kengkawan! Meja kerjaku terbuat dari sendiri. Sunyinya dipecah oleh Baim yang datang bersama #AdaBand formasi lama. Membawa satu paket #Tiara dari dalam komputer. (jadul ih) Indah, temans! Dipadu dengan mendung dan gelap, jumat ini sempurna untuk sunyi sendiri, tanpa harus melakukan apapun. "Sebentar lagi musim penghujan" begitu katanya. Kata … Lanjutkan membaca Jumat Ngaco

Surat Untuk Seorang Teman

Segelas kopi bersama Beranda Taman Hati - Dialog Dini Hari. Masih sendiri di meja kerja. Berdua dengan Dia yang disana. Di antara waktu pagi ke siang ini, biarkan kutulis barang sepucuk-dua pucuk surat, selembar-dua lembar kalimat, untukmu yang nun jauh disana. Entah sedang apa kau sekarang? Hanya kukira semata, bahwa pagi ini kau sibuk dengan kerjamu yang … Lanjutkan membaca Surat Untuk Seorang Teman

Ekstasi Puisi

boemipoetra

oleh Saut Situmorang

Di saat sedang membaca puisi, terutama kalau puisi yang sedang saya baca itu mampu menimbulkan apa yang oleh si pemikir Junani Kuno Aristoteles disebut sebagai “katharsis”, yaitu semacam rasa nikmat ekstasi-tekstual, atau tekstasi, saya selalu dikonfrontasi oleh sebuah pertanyaan: Kenapa bisa timbul tekstasi tersebut? Apa yang menyebabkannya?

Tapi perlu saya tambahkan buru-buru bahwa “rasa nikmat ekstasi-tekstual” atau “tekstasi” itu tidak terjadi karena saya kebetulan membaca puisi seorang penyair yang sudah terkenal. Maksud saya, terkenal-tidaknya “nama” seorang penyair, bagi saya, tidak otomatis menimbulkan katarsis dalam peristiwa pembacaan yang saya lakukan. Reputasi biografis seorang penyair terkenal paling-paling cuma menambah rasa suspense, atau harapan-untuk-kejutan, yang lebih besar saja bagi kemungkinan terjadinya sebuah katarsis. Bahkan tidak jarang banyak sajak para penyair terkenal ternyata hanya mampu untuk tidak menimbulkan respon apa-apa pada diri saya, kecuali rasa mual tekstual, setelah membacanya, sehingga membuat saya heran kok sajak beginian bisa keluar…

Lihat pos aslinya 915 kata lagi

Nikmati Aja

Di meja kerja, terbuat dari Nikmati Aja-nya /RIF. Bernostalgila dengan album ini. Meskipun dulu saya menikmatinya masih dalam bentuk kaset. Membaca sampul dan liriknya. Berbeda dengan album yang sekarang terputar di komputer meja kerja saya. Digital, tak berwujud fisik. Kalaupun menghendaki lirik, saya harus bertanya kepada mbah google, lirik apa yang hendak saya baca. Ah. Kalau … Lanjutkan membaca Nikmati Aja

Jangan Sombong

Banyak junk-note yang sebenarnya pengen saya tulis. Tapi berhubung sayanya sedang tidak benar, maka, nanti sajalah junk-note itu saya sajikan. Suka-suka rasa saja bila hendak pada nantinya datang. Kalau pun tak datang-datang, ah, itu rasanya tidak mungkin. Tidak mungkin tidak datang maksud saya. Hendak itu pasti datang! Terkecuali kalau saya sudah berjumpa dengan abadi yang disana. Tidak mungkin … Lanjutkan membaca Jangan Sombong

Poster Di Dinding

Kalau pada suatu hari, di jalan entah dimana kalian menemukan poster di bawah ini, tertempel pada sebuah dinding, silahkan berekspresi sesuka kalian. Maksudnya ya, boleh senyum, ngakak, cemberut, sebel, marah, atau apapun ekspresi yang pengen kalian keluarkan dan kalian suka. Seterah, bebas sebebas merpati.Dibuat hanya karena ingin bersenang-senang semata. Tidak bermaksud dengan tujuan lain-lain. Tiba-tiba saja … Lanjutkan membaca Poster Di Dinding