Dan Biar Esok Menjadi Misteri

Juni yang sudah tujuh belas. Hari selasa menjelang siang bersama kopi hitam yang tinggal ampas. Kantor sepi hanya winamp yang setia mengisi kosong dengan nyanyi.

Sengaja kupilih tiga lagu mewakili hari mengawali cerita. The Strokes membawa Someday, The Rain membawa Biar Esok Menjadi Misteri dan terakhir Tipex membawa Selamat Jalan.

Kenapa hanya tiga? Atau kenapa tidak satu atau dua? atau jumlah lainnya? Ya tidak apa-apa. Pengen saja. Nanti bisa ditambah, bisa dikurang. Mengikuti rasa dan selera yang sedang datang saja.

*****

Ini sekitar dua-tiga bulan lalu. Di lantai dua tempat saya kost, di pojokan ada sebuah kursi yang biasanya saya ataupun makhluk penghuni kost lainnya, gunakan untuk menikmati sore santai dengan duduk di kursi itu menghadap ke jalan, melihat pemandangan sekitar di bawah kami.

Sekali waktu saat saya pulang, ada duduk satu kawan yang sedang merenung di kursi itu. Wajahnya seperti murung. Mungkin sedang tidak punya uang. Haha. Ngga ding, kalau itu mah pasti saya. 

“Nyantai nih?” sapa saya. Sapa yang basi dan kering kreatifitas.

“Menikmati masa-masa akhir, mas. Sebentar lagi penempatan”

Jadi, kawan saya ini sekolah ikatan dinas. Sudah selesai kuliah dan menanti penempatan. Harinya pun tiba. Penantian usai untuk penempatan.

“Wah, selamat ya. Penempatan dimana?” tangan saya menjabat tangan kawan saya itu. Memberi selamat. Kemudian dia bercerita bahwa dia akan kembali ke pulau sebrang, ke Sumatera. Kawan saya memang berasal dari Sumatera. Tetapi penempatannya masih lumayan jauh dari kampung halamannya.

Dirasa saya cukup banyak ngobrol kesana kemari, saya pamit ke kamar. Tahu diri juga saya bahwa dia mau menikmati sendirinya untuk sementara waktu. Sepertinya dia mau coba merekam kenangan yang tersisa ke dalam alam bawah sadar untuk nanti di akses kembali di tempat barunya di Sumatera sana.

Ini saatmu, kawan. Aku juga nanti ada saatnya. Ucap saya sendiri.

Saat saya keluar kamar, dia sudah tidak berada di singasana kursi di pojokan lantai dua. Rupanya sudah kembali ke kamarnya. Saya melewati kamarnya dan mendengar suara sedikit gaduh seperti orang sedang mengepack barang-barang. Terdengar juga satu lagu dari Tipex berjudul Selamat Jalan yang mengalun nyaring dari kamarnya, sepertinya diputar dari HP.

Mellow sekali, kawannnn! Nangis-nangis dah bocah ini. Pikir saya begitu. Tapi tidak saya ucap. Saya cuma lewat saja di depan kamarnya.

Kemudian, besok-besoknya dia sudah benar-benar pergi, membawa Selamat Jalan bersama barang-barangnya beserta kenangan terakhir dari usahanya merekam terakhirnya di kursi pojokan tempat singasana santai kami semua.

Satu yang saya ingat dari kawan saya itu, selain cerita kursi singasana sore itu. Ada hal lucu yang saya temukan dari kawan saya ini, dan mungkin jarang sekali ada di kawan saya yang lain keunikan seperti yang dia punya.

“Saya itu kalau nonton Film Titanic cuma sampai adegan-adegan romantis di awalnya saja, mas. Kalau sudah masuk adegan kapal tenggelam saya ngga nonton. Dari dulu sampai sekarang selalu begitu” kawan saya berujar.

“Jadi, kamu belum pernah nonton endingnya Film Titanic dari dulu sampai sekarang?”

“Belum, mas. Saya ngga suka adegan-adegan sedihnya. Saya lebih suka dialog-dialog di awal saat Jack merayu Rose. Romantis”

“Oh….” dan kemudian saya heran, ada orang macam kawan saya itu. Film yang usianya sudah lebih dari sepuluh tahun, dan kawan saya itu tidak pernah mau nonton adegan akhirnya. Tapi kenapa dia bisa tahu kalau adegan-adegan akhirnya menyedihkan ya? Saya tambah heran. Hehe.

Biarlah. Kawan saya sudah pergi ke Pulau Sebrang bersama Selamat Jalan dan saya mengenangnya dengan cerita lucu dan adegan dia duduk di singasana terakhir bersama packingnya menyanyikan Tipex.

*****

Dan hidup bagai roda yang berputar. Naik-turun, atas-bawah. Sekarang kita besok orang lain. Sekarang orang lain nanti kita. Bergantian dan kontinyu.

Begitu juga dengan cerita Selamat Jalan kawan saya tadi. Sepertinya baru beberapa bulan yang lalu saya ngobrol dengan kawan saya yang akan berangkat ke Pulau Sebrang, dia yang menjadi aktor utamanya. Seperti roda yang berputar, sekarang datanglah saatnya saya yang harus pergi.

Bedanya dengan kawan saya, kalau kawan saya jelas arah tujunya hendak kemana. Sementara saya masih belum tahu mau kemana. Hehe. Tapi harus pergi. Intinya begitu. Kerjaan habis. Kontrak tak ada. Saatnya mencari yang baru.

Saya selalu berusaha, mencoba, dan belajar yakin, bahwa di depan ada sesuatu yang baik meski masih misteri. Meski usaha saya mencoba dan belajar belum tentu selalu berhasil. Kadang ada juga rasa takut yang datang akan ketidakpastian di depan sana. Tapi bukannya selama ini kita justru bertahan hidup karena ketidakpastian itu bukan? 🙂

Karena memang kita takkan pernah tahu
apa yang akan terjadi nanti
Biarlah yang kita tahu hanya bahwa
kita harus coba maknai hari ini
Dan biar esok menjadi
misteri
(Dan Biar Esok Menjadi Misteri – The Rain)

Ditambah Selamat Jalan dari Tipex, lengkap sudahlah cerita saya seperti kawan saya yang sempat saya bilang mellow kemarin. Haha. Ya, ya, ya. Bukan karma sih, cuma kualat. :p

Sementara The Strokes dengan Someday, jujur saya masih belum dapat apa maksud keseluruhan lagu ini. Tapi entah kenapa, saya mendapat energi ceria dari lagu ini. Dengan ketukan drum yang asyik dan suara gitar yang gimana gitu, entah apa istilahnya suara riff gitar yang seperti ini, saya mendapat energi senang.

Pada akhirnya, hidup terus berjalan. Seperti tiga lagu yang saya dengarkan di pagi meluncur ke siang ini, semua memiliki makna dan cerita. Ada yang kita langsung tahu apa artinya. Apa tujuannya. Ada juga yang kita hanya bisa merasakan tapi belum tahu apa maksud sebenarnya, tapi kita tahu energi positif yang datang darinya.

So, karena memang kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi nanti.  Teruslah berjalan, kawan! 🙂

Selamat siang, selamat senang. Adios permios. 

*****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s