Ditepinya Sungai Serayu

Di tepi sungai serayu

Selamat sore. Jakarta bagian selatan terbuat dari mendung dan macet. Gue duduk di depan kompi di temani keroncong nan syahdu, yang sering gue denger kalau lagi naik kereta trus berhenti di Stasiun Purwokerto. Eh, sekarang sih kalau berhenti di Stasiun Kroya lagu ini juga diputar, ngga cuman di Purwokerto aja. Hehe.

Tapi memang seinget gue, pertama kali denger lagu ini ya di Stasiun Purwokerto. Khas! Jadi, kalau di stasiun-stasiun lain gue harus ngelongokin kepala dulu keluar jendela buat ngeliat papan plang yang bertuliskan nama stasiun, ngga begitu kalau gue lagi di Stasiun Purwokerto. Cukup denger nada awal dari lagu ini dan gue pasti yakin kalau gue sedang berhenti di Stasiun Purwokerto. Yang kemudian sekarang diikutin Stasiun Kroya.

Ini lagu keroncong klasik. Diciptakan tahun 1940an oleh komposer bernama Soetedja. Memang, meski sama-sama terinspirasi dari sebuah sungai yang mengalir, lagu ini tidak bisa menjadi seterkenal lagu keroncong lainnya yang juga terinspirasi dari sebuah sungai, yaitu lagu Bengawan Solo yang diciptakan sama Mbah Gesang.

Entahlah! Mungkin momennya yang tidak pas, atau promosinya yang kurang. Mungkin karena jaman dulu belum ada ringtone sama ringbacktone juga. Jadinya lagu ini tidak mudah menyebar dan dikenal sama masyarakat luas. Atau apa? Entahlah. Gue sendiri juga kurang begitu tahu.

Mungkin ada diantara pemirsahhh semua yang tahu kenapa? Kalau tahu, ceritalah sama gue, biar gue juga jadi ngerti bin paham. 🙂

Kalau kita mengutip sedikit dari bait lirik di lagu ini, ada syair yang mengatakan //warna air sungai nan jernih/perahu berkilauan/. Kalau sekarang kita cocokan lirik ini sama kondisi Sungai Serayu saat ini, pasti kita akan mengernyit dan bertanya. “Sungai Serayu yang mana nih yang dimaksud?”. “Orang sungainya coklat begitu kok. Masak sih jernih?”

Hehe. Itu duluuuu! Dulu para pemirsah. Hehe. Dulu di tahun 1940an saat lagu ini baru diciptakan. Kalau sekarang ya iya, sungainya butek. Coklat begitu. Orang kita juga kok yang bikin butek ntu sungai.

Coba sekarang dicari, sungai mana yang masih jernih? Sudah ngga ada sekarang mah. Beruntung kalau kita nemu sungainya cuma berwarna coklat doang tapi bersih. Karena banyak sekali sekarang ini sungai yang memiliki peran ganda. Selain jadi tempat mengalirnya air, sungai juga jadi tempat umum pembuangan sampah terpanjang di dunia.

Makanya, ngga heran di kali-kali di sekitar Jakarta, warnanya bukan lagi coklat tapi sudah menjadi item. Belum lagi aneka sampah menjadi bukit-bukit yang kian hari kian menumpuk. Sungai-sungai di tempat lain di luar Jakarta pun, kalau tidak menjadi pegunungan sampah, paling tidak warnanya sudah tidak jernih lagi. Banyak yang menjadi coklat.

Dan itu adalah perbuatan kita, pemirsahhhh. Hasil “karya” dari perbuatan kita semua. Harus tahu, bahwa begitulah nyatanya.

Hemmmm…

Di perjalan kereta beberapa waktu yang lalu, gue sempet nanya sama temen yang seperjalanan sama gue. “Rasanya gimana ya jaman dulu para Tuan dan Nyonye Belande duduk di kereta begini, keretanya masih kereta uap, menikmati perjalanan dari Batavia ke Jawa? Kanan kiri sini pasti hutan semua”. Sambil tangan gue nunjuk keluar di samping kanan kiri kereta yang gue naikin.

Dan sore ini gue bertanya, “Gimana ya rasanya dulu Soetedja duduk di tepi Sungai Serayu ini? memandang keindahan ciptaan-Nya yang kemudian memantik inspirasi di kepalanya menjadi sebuah lagu?”.

Mari kita bernostalgia, menjadi Soetedja. Mungkin kita bisa tahu seperti apa rasanya dia dulu berada di tepi Sungai Serayu yang /indah murni alam semesta/ itu.

*****

Ditepinya Sungai Serayu
Waktu fajar menyingsing
Pelangi merona warnanya
Nyiur melambai-lambai

Warna air sungai nan jernih
Beralun berkilauan
Desir angin lemah gemulai
Aman tentram dan damai

Gunung Slamet nan agung
Tampak jauh disana
Bagai sumber kemakmuran
Serta kencana

Indah murni alam semesta
Tepi sungai Serayu
Sungai pujaan bapak tani
Penghibur hati rindu

*****

Sumber gambar asli dari sini ===> sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s