Jas Merah

Ada seorang kawan, yang meskipun sudah berganti motor dengan model keluaran terbaru, masih menyimpan motor pertamanya yang di beli dari jerih payah sendiri. Motornya sih sudah bulukan, walaupun masih bisa dipakai.

Tapi ya begitu, sudah tak seenergik motor keluaran sekarang. Hehe. Harus lebih banyak ke bengkel di banding motor-motor yang lebih muda. Haha. Ya, maklumlah, faktor usia, mamen. :p

Sempat saya tawar, kalau-kalau mau dijual. Soalnya saya juga sempat punya cerita sama motor itu, meskipun ngga sebanyak ceritanya teman saya. Tapi kawan saya itu cuma jawab, “Ini bukan soal nominal, brai. Ini soal nilai historisnya. Cerita gue sama motor ini ngga kebeli sama duit. Biarlah motor ini tetep sama gue sampai kapanpun.”

Dan sampai sekarang motor itu masih disimpen sama kawan saya. Meski kawan saya sudah jarang menggunakan motor itu. Karena sudah ada motor yang lebih muda, juga ada mobil yang akhir-akhir ini lebih sering dipakai sama kawan saya.

@@@@@

Ini bukan soal nominal. Tapi soal cerita dibalik yang nampak.

Bisa jadi ada barang atau sesuatu hal yang bagi kita sepele, tapi bagi orang lain itu adalah segalanya. Ya karena itu tadi, nilai historis yang terjadi antara dia dengan barang atau sesuatu hal tadi. Begitu juga sebaliknya, mungkin ada barang atau sesuatu hal yang bagi kita sepele, tapi bagi orang lain itu adalah segalanya.

Hal-hal semacam ini sangat personal. Kadang juga ngga masuk akal. Jauh dari kemampuan penalaran kita. Seperti orang yang jatuh cinta saja, bisa melakukan hal-hal yang menurut orang yang tidak merasakan cinta, sangat ndak masuk akal sama sekali. Nggak bisa dinalar.

Tapi sangat logis dan masuk diakal bagi yang merasakannya dan menjalaninya.

Pasti banyak diantara kita yang memiliki ikatan-ikatan seperti itu. Dengan suatu benda, suatu tempat, suatu waktu atau tanggal tertentu, atau dengan hal-hal tak masuk akal lainnya. Tentu saja tak masuk akal menurut pandangan orang yang tidak berada dan merasakan hal itu di dalam dirinya.

Seperti kawan saya itu. Motornya bulukan, dijual juga mungkin hanya akan laku dengan harga sangat murah. Jadi rongsokan bahkan. Saking sudah tidak karuannya wujud motor yang dia punya. Tapi berhubung kawan saya itu punya banyak ikatan-ikatan dengan motornya itu, dia menghargai motor itu dengan “harga” lebih tinggi, sangat tinggi bahkan, dibanding pandangan awam.

Kalau di pelajaran ekonomi yang saya pelajari waktu SMP dulu, mengandung nilai intrinsik lebih tinggi. Eh, bener ngga sih? Apa nilai nominal ya? Wis mbuh lah. Kelalen inyonge. Hehehe.

@@@@@

Kalau kawan saya punya cerita dengan motornya, saya juga ingin cerita ikatan saya dengan salah satu tempat makan di kota kelahiran saya.

Ya, bukan tempat makan mewah sih. Bisa dibilang, sangat sederhana sekali malah. Hanya warung mie ayam di pinggir jalan di jalanan kota Klaten.

Saking sederhananya, kemarin saya kesana dan makan seporsi mie ayam dengan minumnya jeruk dingin, saya hanya harus membayar lima ribu rupiah. Hanya! Kenapa saya bilang hanya? Karena di Jakarta, dengan uang sebesar itu saya hanya mendapatkan seporsi indomie rebus. Itupun indomienya tanpa telur dan belum dapat minum.

Sederhana tempatnya, sederhana harganya. Itulah alasan kenapa tempat ini menjadi tempat yang ada ikatan kenangan dengan saya. Sederhana harganya itu tadi.

Jadi begini ceritanya,

Syahdan, dulu sekali ada dua orang remaja tanggung lulusan SMA favorit di kota itu yang menjadi penganggur dengan masa depan yang tidak jelas. Ironis sekali, lulusan dari SMA favorit tetapi tidak punya kejelasan arah tuju masa depan.

Pekerjaannya setiap hari, kalau boleh dibilang itu pekerjaan, adalah menjelajahi kota Klaten dengan harapan mendapat pekerjaan sebenar pekerjaan.

Pernah menjual alat-alat pramuka dengan menawarkannya ke sekolah-sekolah. Belum juga mendapat untung, usaha itu sudah keok duluan.

Pernah melamar menjadi pelayan rumah makan padang karena melihat iklan dari surat kabar, setibanya di rumah makan dijawab dengan “maaf, kami nggak pernah buka lowongan di Koran”. Loh? Itu yang pasang iklan siapa?

Pernah kerja jadi kuli bangunan, diomelin mulu sama bosnya karena kerja ngga pernah bener.

Pernah juga menjadi pelayan toko di swalayan, sering banget ribut sama senior. Dibilangnya junior ngga tahu diri.

Kemudian lama jadi penganggur, yang kerjanya cuma ngumpul-ngumpul ngga jelas sambil main PS, yang waktu itu ngetrendnnya masih PS 1.

Dan di sela-sela semua itu, karena dompet kami yang tipis juga donatur keuangan dari orang tua yang tidak lancar, kami harus pandai-pandai berhemat saat mencari makan di luar. Prinsipnya, asal banyak, murah dan bikin kenyang. Maklum, dulu kemana-mana lebih sering gowes pakai sepeda daripada motor. Jadi butuh energinya lebih banyak. Haha.

Memang ada beberapa tempat yang hingga kini, kalau kami mudik dari berbagai antah-berantah kami masing-masing merantau, selalu menjadi tongkrongan favorit kami. Kami disini adalah saya dan beberapa teman dekat semasa SMA.

Tapi ada satu tempat, ya warung mie ayam tadi, yang hanya saya berdua dengan kawan saya yang banyak punya ikatan kenangan disana. Sedang kawan-kawan lainnya, mungkin tahu tempat itu, tapi tidak punya banyak kenangan disana. Seperti yang saya miliki dengan salah satu kawan saya itu.

P06-08-14_18-05

Nama tempatnya “warung makan mie ayam selera pak min”. Sampai sekarang tempatnya masih sama. Sedikit bergeser dari tempat semula, tapi hanya dua atau tiga meter saja karena ada pembangunan sekolah di depannya.

Selebihnya tempat itu masih sama. Bahkan meja dan kursinya tidak berubah. Masih seperti yang ada dalam kenangan saya.

Tempatnya juga tepat di pinggir jalan. Mudah untuk di akses. Mungkin bagi yang tahu dimana Klaten itu, dan mengerti seluk-beluk arah kota Klaten, akan mudah menemukannya. Karena tempatnya tidak jauh dari Stasiun Klaten. Dari stasiun tidak lebih dari satu kilometer menuju ke arah utara.

Letaknya persis di depan SD Klaten 03. Bersampingan dengan tempat kursus bahasa inggris SpeakFirst.

Eh, kenapa jadi papan petunjuk arah begini? Memang siapa yang mau kesana coba? Hehe. Biarlah. Biar banyak yang mampir ke tempat Pak Min. Semogaaaa.

@@@@@

Bisa jadi orang akan males saya ajak ke tempat itu. Ngapain?

Mungkin orang akan lebih memilih warung mie ayam lainnya yang lebih enak menurut dia, lebih mahal juga, karena kan ada pepatah yang bilang “ada harga ada rasa”. Lebih nyaman juga buat berlama-lama makan. Dan lebih-lebih lainnya menurut versi orang lain itu.

Tapi saya mah insyaAlloh nggak akan nolak di ajak ke tempat ini lagi dan lagi. Walaupun sekarang sudah nggak sesering dulu mampir ke warung ini, tapi saya selalu menyempatkan sekali-dua mampir makan ke tempat ini setiap saya mudik ke Klaten.

Dan yang membuat saya senang adalah, rasa mie ayamnya yang citarasanya (cailiah, bahasanya), citarasanya tidak berubah. Suer! Ini benar kok. Benar menurut pendapat pribadi saya tapinya.

Mie sama kuahnya mungkin sama dengan mie-mie ayam di tempat lainnya. Tapi rasa minyaknya itu, sama potongan ayamnya itu, beda. Ini menurut saya lho ya, yang awam kuliner dan ngga pernah sekolah tata boga.

Di potongan ayamnya ada campuran potongan sayuran kecil-kecil, entah itu apa nama sayurannya. Saya mau nanya ke bapak penjualnya tapi sungkan. Mau nebak-nebak sendiri tapi kok saya ini nggak tahu jenis-jenis sayuran. Haha.

Pokokknya adalah campuran sayurannya. Seperti sledri tapi bukan sledri. Kalau sledri kan biasanya dipotong kecil-kecil dan ditabur di atas mie ayamnya. Kalau ini ikut direbus sama ayamnya, jadi sayuran ini lembut dan juga tercampur sama potongan ayamnya. Lezat wis pokoknya. Menurut saya lho ya. Hehehe.

Mampirlah ke Klaten, insyaAlloh saya ajak kesana nanti.

@@@@@

Entah bakal sampai kapan saya melakukan ini. Maksudnya, nyamperin tempat-tempat kenangan, benda-benda kenangan, atau apapun yang mempunyai kenangan. Mungkin akan terus saya lakukan. Sampai kapanpun.

Sekarang sih saya mikirnya begitu. Entah bila pada akhirnya saya berubah pikiran. Tapi kayaknya enggak deh. Tapi kan, siapa yang tahu ke depannya pemikiran kita akan berkembang seperti apa? Bukan begitu?

Karena bagi saya, hal ini seperti ziarah. Menjadi pengingat bagi saya akan suatu hal.

Dengan mengunjungi tempat-tempat yang mengandung banyak ikatan kenangan di masa lalu, saya jadi ingat dari mana saya berasal. Saya jadi ingat, siapa dulunya saya. Dan saya jadi bisa belajar bersyukur, bahwa ternyata yang buruk itu tak selamanya. Bahwa ternyata saya bahkan bisa bertahan hingga saat ini.

Padahal mungkin di saat dulu, di tempat yang sama, saya hanya bisa memaki keadaan. Mungkin juga memaki tuhan. Kenapa saya begini?

Tapi sekarang di tempat yang sama, memang kehidupan saya masih belum ideal, tapi saya sudah bisa belajar bersyukur. Memang sih belum menjadi orang yang bisa bersyukur apalagi pandai, masih dalam taraf belajar. Karena saya masih sering memaki keadaan, masih sering memaki kehidupan, masih sering juga memprotes tuhan, tapi setidaknya saya dalam proses belajar bersyukur.

@@@@@

Mengutip quote Bung Karno yang sering saya temukan dimana-mana, sering diucap orang juga, “JAS MERAH”, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.

Saya mencoba belajar dari itu. Semoga saya tidak melupakan dari mana saya berasal. Walaupun mungkin saya masih belum berfokus dalam cara, akan kemana saya kembali.

Selamat siang

Adios permios.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s