Mozaik Cerita

“Aku suka mereka yang berkarya”, begitu biasanya jawaban Pidi Baiq saat di jagat twitter ada yang menanyakan apakah Surayah (panggilan mesra kengkawan buat Pidi Baiq) suka dengan band yang ini atau yang itu.

Sedang Pram bilang, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama Ia tidak menulis, Ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keadilan.”

Apa kesamaan inti keduanya? Berkarya. Hehe.

Kemudian aku ngomong, “kapan aku akan membuat sesuatu?”

“Mungkin nggak akan pernah selama kau tidak konsisten, terus dan terus!”, ini kata hatiku yang ngomong, yang denger aku doang, tapi karena ditulis disini, orang-orang yang baca jadi tahu.

“Kapan-kapan”, ini judul lagu Koes Plus.

*****

Sore, sebuah rabu yang sangat tidak kacau. Teramat sangat tentram malah. Kecuali anak-anak yang main game online di samping kanan kiri, yang biliknya jauh-jauh bener, tapi ngobrol dari tadi nggak habis-habis. Berhubung aku berada di antaranya, jadilah suara itu mampir dulu ke telingaku sebelum sampai pada komunikan. Sungguh, sebuah suara anak-anak yang kelebihan baterai euy! Tapi biarlah, namanya juga bocah.

Padahal, di rabu yang bila aku masih kerja di kantor yang lama, bisa dipastikan 90% kekacauan akan terjadi. 10% sisanya buat hari libur dan kacau tak tertangani. Hehe.

Hari ini sepedaan, nafasnya sudah nggak terlalu ngos-ngosan. Tapi masih suka haus, soalnya jalanan panas. Mampir ke Perpusda Klaten, tempatnya yang di pojokan dari arah simpang lima Matahari Plaza Klaten. Sekarang Perpusda-nya adem, sudah pakai AC. Tapi malah rasa-rasanya lebih sepi dibanding jaman dulu waktu aku masih sering “mangkal” disini.

Sebab kangen angkringan, aku ngangkring sebentar, minum es teh (di Klaten, orang nggak perlu bilang es teh manis, yang hadir sudah pasti es-nya manis), makan nasi kucing, sepedaan lagi. Sehat!

Berakhir di warnet, buka-buka website yang pengen dibuka, sambil dengerin Jenny. Mungkin asing nama band asal Jogja ini. Maklum indie, dan sekarang bandnya juga udah bubar kok. Hehe. Setelah ditinggal sama beberapa personilnya, akhirnya band ini resmi bubar sebelum meluncurkan album kedua. Personil tersisa melanjutkan hidup Jenny yang bereinkarnasi jadi FSTVLST (dibaca Festivalist).

Aku juga belum lama sih kenal sama Jenny. Tapi sekarang, kalau pakai istilah orang Jawa itu, aku lagi nggathok-nggathoknya. Lagi suka-sukanya dengerin Jenny. Khususon tracknya yang berjudul Mati Muda. Ciamik, my frend! Tapi itu pendapatku sih, juga pendapat orang-orang yang suka band ini.

Di Jakarta ada Jimmy Multhazam, frontman The Upstairs juga Morfem, yang selalu ciamik menulis lirik. Di Jogja ada Jenny yang reinkarnasi jadi FSTVLST yang punya frontman Farid Stevy Asta, yang menurutku sama handalnya dalam menulis lirik. Ini sangat sangat subjektif, jadi ya sangat terbuka luas peluang untuk tidak setuju. Monggo.

Dan lagu Mati Muda, meski dengan musik yang menghentak, liriknya mengajak kita untuk merenung. Kalau istilah populernya, ini adalah lagu religius, meski tidak melantukan satu potongpun bahasa arab.

Berbaris baris dan bersiaplah
Bersiap siap siapkan jawaban
Dan sambutlah sambut sebuah istilah 
Universal untuk akhiran
Nyala takkan terlalu lama
Padam akan datang lebih segera

Jika harus jadi maka jadilah
Jika harus mati maka matilah

Semoga matimu mati muda
Semoga matiku mati muda
Hidup tak perlu terlalu lama
jika dosa yang berkuasa

Jika harus mati maka matilah
Jika harus kini maka sekaranglah

*****

Mereka yang berkarya dan bahagia.

*****

Muleh! Pulang. Dan jangan pusing atas ketidakjelasan tulisan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s