Banyak Wajah

Stasiun Lempuyangan sore hari. Pukul 16.15 WIB.
Laju kereta melambat, terdengar decit suara roda yang beradu dengan rel sebab pengereman, sesaat kemudian rangkaian gerbong demi gerbong berhenti. Terlihat penumpang berebut masuk dari segala pintu. Mereka saling desak dan coba mendahului untuk sampai di tempat duduk masing-masing lebih dulu dibanding yang lain.

Bukan untuk mendapatkan jatah tempat duduk, karena toh di tiket mereka sudah tertera dimana mereka harus duduk. Tetapi berebut untuk bisa memasukkan tas dan segala barang bawaan mereka di rak di atas tempat duduk masing-masing. Karena sering, meski tempat menaruh barang itu tepat berada di atas tempat duduk mereka, tetapi tempat itu sudah terisi penuh oleh tas dan barang bawaan entah milik siapa.

Aku hanya memandangi itu semua. Aku yang sudah naik dari stasiun sebelumnya sudah rapi menaruh barang bawaanku tepat di atas tempat duduk yang aku miliki, bangku 5A. Hanya ransel kecil yang tidak banyak makan tempat.

Ibu-ibu yang duduk di depanku, yang tadi duduk tepat di depanku kini sudah bergeser ke sisi tempat duduk yang lain. Entah sejak kapan, sepertinya sejak saat aku naik di stasiun sebelumnya, dan kemudian aku langsung jatuh tertidur dengan lelapnya.

Di Lempuyangan ada tiga pria menghampiri tempat duduk kami. Satu duduk di sebelah ibu di depanku, dua lagi duduk berjajar denganku. Tempat dudukku jadi full seat. Sungguh tidak nyaman kalau harus begini sampai Ibukota. Masalahnya bukan hanya karena full seat, tapi juga karena dua di antara orang yang duduk berjajar di bangku kami, adalah pria dengan ukuran badan besar. Membuat ruang gerak kami jadi sempit.

Aku memutuskan keluar dari gerbong, sejenak mencari udara segar sekalian mencari makan ke penjaja asongan di Lempuyangan.

*****

“Numpang duduk ya, pak?” sapaku pada bapak yang duduk di seberang belakang tempat dudukku. Kulihat tempat duduknya yang dua seat masih kosong, begitu juga dengan bangku di depanya. Lumayan lah, daripada harus duduk berdempetan di bangkuku yang tadi.

“Silahkan”. Tanpa dua kali bertanya, aku langsung mengambil duduk di depan si bapak. Dia tidak banyak bicara. Sedari aku duduk di depannya, matanya lebih banyak terpejam. Tidur nyenyak setelah itu.

Tapi itu tidak masalah buatku. Toh aku memang lebih senang menikmati perjalanan dalam kereta dengan diam daripada harus banyak bicara. Entah kenapa, buatku itu lebih banyak basa-basinya, bukan benar-benar sebuah obrolan yang menyenangkan.

Sembari melihat pemandangan diluar jendela, entah kenapa iseng pikiranku melihat wajah si bapak yang duduk di depanku dan teringat pada pengamat musik yang sering muncul di TV. Bukan, bukan Bens Leo. Hehe. Satunya lagi, yang namanya Denny Sakrie, bapak yang punya tahi lalat di pipi sebelah kirinya. Bedanya dengan Denny Sakrie, bapak yang duduk di depanku ini tahi lalatnya ada di sudut mata dalam sebelah kanan. Harus rada jeli melihat untuk mengetahui ada tahi lalat di mata sebelah dalam si bapak.

Selebihnya, antara si bapak di depanku yang aku tidak tahu namanya, dengan Denny Sakrie, meski tidak sama persis, menurutku ada kesamaan pada wajah mereka. Pada garis muka dan tulang-tulangnya.

*****

Aku sedang menikmati pemandangan di luar jendela saat tiba-tiba bapak itu bangun. Hanya bangun, kemudian berjalan meninggalkan tempat duduknya. Sepertinya menuju ke kamar mandi. Karena saat bapak itu kembali ke tempat duduknya, kulihat wajahnya basah oleh sapuan air.

Kami masih tidak bicara. Dan aku, sekali lagi, merasa senang karena tidak harus berbasa-basi dan memulai percakapan yang sama-sama tidak kami nikmati. Lebih baik kami sama-sama diam, menikmati waktu kami masing-masing, dan menggunakannya sebaik yang kami bisa tanpa harus menghamburkannya dengan basa-basi.

Sepertinya bapak di depanku tadi ambil wudhu saat ke kamar mandi. Karena di dalam posisi duduknya sekarang, yang menghadap kepadaku, bapak itu menunaikan sholat dalam posisi duduk. Aku sedikit menggeser ke sisi bangku yang lainnya, agar bapak itu tidak terganggu sholatnya dengan kehadiran wajah rupawanku ini. Nanti kalau tidak khusyuk kan kasian? Cih. Hehe.

Aku mengamati pemandangan dalam kereta yang malam itu hampir terisi penuh. Mungkin karena ini minggu, hari para mudikers harus kembali lagi ke kulon, ke Ibukota. Setelah hari jumat ke minggu mereka berkumpul bersama keluarga di kampung halaman, minggu sorenya mereka harus kembali mengadu nasib ke Jakarta, mengais rizki untuk keluarga di kampung halaman.

“Ini harusnya diisi rombongan saya, mas” Bapak yang duduk di depanku tiba-tiba bicara. Karena tidak ada orang lain disitu selain aku, sepertinya kalimat itu memang ditujukan kepadaku.

“Iya, pak?”

“Ini biasanya jadi tempat duduk saya, mas sama rombongan teman saya. Kalau isi semua ya kami berempat disini”

Sepertinya bapak di depanku juga mudikers seperti kebanyakan orang yang berada di gerbong ini. Aku mengarahkan pandangan pada rombongan berisi lima pria di pojokan sana, yang dari tadi gaduhnya minta ampun, rombongan mudikers yang entah dari stasiun mana tadi naik. Mungkin rombongan seperti itu yang dimaksud sama si bapak ini.

“Oh, begitu. Tapi kok tumben ini bapak sendirian?”

Aku menerka mungkin teman-teman si bapak nanti akan naik di stasiun berikutnya. Karena tidak satupun terlihat sang bapak punya teman di bangkunya. Hanya aku, yang menumpang duduk di bangku depannya yang tadi kulihat kosong.

Aku juga mencoba menarik sebuah kesimpulan dari kalimat si bapak. Mungkin saja dia mau menunjukkan ketidaksukaanya padaku karena menempati tempat duduk kawan-kawannya. Dia sebenarnya ingin menikmati kesendirian sebelum kawan-kawanya datang, dengan tidak diganggu oleh orang-orang yang tidak seharusnya ada disitu. Termasuk aku. Mungkin. Tetapi nyatanya aku malah disitu.

“Mungkin teman-teman saya sedang ada dinas mendadak. Harusnya sih tadi naik bareng saya di Lempuyangan”

“Oh, begitu”

“Jadi kalau sampai Purwokerto tidak ada yang naik, berarti tiketnya ngga dijual ke orang lain. Mas bisa duduk disitu”

“Kalau Cirebon, pak?”

“Engga lah. Sudah terlalu dekat itu”

*****

Bapak Denny Sakrie KW Super yang sekian menit lalu aku pikir ngga ikhlas ngasih pinjam tempat duduknya, ternyata tidak seperti yang kukira. Seusai sholat dan menceritakan rombongan tempat duduknya, bapak itu banyak berceloteh tanpa harus kupancing.

Semua kalimatnya seperti aliran sungai deras, meluncur kencang dan tak terbendung. Mulanya bercerita tentang pekerjaan. Ibukota-Kampung Halaman sudah jadi makanannya selama kurang lebih 30 tahun.  Ajegile kan?

*****

*) kaki yang nyatat: ini entah cerita tentang apa, dengan Bapak Deny Sakrie KW Super. Kalau ndak salah ingat, dulu dia cerita kalau dia itu semacam intel. Mungkin 008 versi Indonesia. Tapi saya lupa detailnya. Jadi di post saja, hari ini, 21 juli 2017 tanpa ditambah macam-macam.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s