Pursuit of Happyness

Pagi begini dengerin lagunya Koes Plus berasa gimanaaa gitu. Haha. Syahdu sih. Biarpun lagu-lagunya hits di jaman kedua orangtua saya masih muda dulu (yang mungkin belum saling menikah, atau sudah ya?), tapi lagu-lagunya tetap enak diputar di jaman sekarang. Jaman dimana orangtua saya yang dulu muda sekarang sudah menimang cucu. Hehe.

Koes Plus adalah legenda. Yaps, legenda musik Indonesia. Menelurkan 89 album rekaman dan mempunyai koleksi 953 lagu yang semua mereka ciptakan sendiri. Emejinggg! Kayaknya belum ada deh musisi Indonesia yang menandingi koleksi album juga lagu mereka.

Tapi pagi ini bukan mau ngomongin Koes Plus dengan segala ceritanya. Mungkin lain waktu.

Pagi ini saya mau cerita soal film yang seminggu terakhir ini saya tonton. Sebenarnya sih sudah dari kemarin pengen nulis, tapi penyakit malesnya selalu datang lebih cepat sebelum saya berhasil menyentuh keyboard buat ketak-ketik.

Jadi sodara, dan juga sodari, sudah lama saya itu ndak nonton film di komputer. Soalnya, semenjak saya dua bulan ini tinggal di Klaten, saya tidak bisa mengcopy film dari komputer kawan saya di Jakarta sana. Haha. Kawan saya itu memang hobi sekali download. Komputernya selalu on dua puluh empat jam.

Jadilah saya kekurangan stok film yang bisa ditonton. Tapi setelah berobat ke klinik Tong Prang, saya akhirnya menemukan jalan keluar dari masalah saya. Jalan keluar itu adalah pintu yang di tengahnya ada tulisan “EXIT”. *kriuk-kriuk-kriuk* *garing, sonnn, garinggggg*. Haha, biarin ah.

The Pursuit of Happyness

Film yang berangkat dari kisah nyata Chris Gardner. Orang yang mulanya pengangguran, ditinggal istri, tanpa rumah kemudian menjadi seorang yang berhasil membalik keadaan hidupnya.

Tapi kok jadi males ya? Haha.

LOADING …. LOADING… LOADING…

Tulisan ini dalam masa inkubasi sekian bulan lalu. Haha. Sekarang 21 Juli 2017, di komputer yang tak lagi sama, saya kembali melanjutkan tulisan ini. Ingatan saya tentang film ini tentu tak lagi sama. Meski sekian bulan lalu, setelah migrasi domisili ke Jogja karena kerja, saya menonton ulang film ini karena pengen. Juga karena film ini bagus buat ditonton meski sudah pernah.

Adalah Chris Gardner, yang menikah dengan istrinya dan mempunyai seorang anak, menginvetasikan uang yang dipunya untuk menjual alat kesehatan yang (mungkin) menurut Chris akan menghasilkan uang banyak karena alat yang dibelinya merupakan teknologi mutkahir. Alat yang wajib dimiliki setiap dokter di rumah sakit.

Mulanya semua berjalan baik-baik saja. Tumpukan alat kesehatan yang memenuhi flat sewaan milik Chris berkurang satu per satu dari bulan ke bulan. Namun, kemudian penjualan Chris tidak selancar penjualan awal. Dalam sebulan, Chris hanya berhasil menjual satu dua alat. Bahkan kadang tidak bisa menjual sama sekali.

Perekonomian keluarga Chris mulai goyah karena itu. Pembayaran uang sewa flat menjadi tertunda. Chris mulai sering bertengkar dengan istrinya. Bahkan kadang mereka harus ribut siapa yang harus menjemput anaknya dari tempat penitipan anak karena istrinya mengambil dua shift kerja demi menghidupi rumah tangga mereka. Puncaknya, istrinya meninggalkan Chris karena tidak kuat dengan kondisi yang mereka hadapi.

Pada saat itu, Chris sedang mencoba magang menjadi pialang saham. Chris terpukau dengan orang-orang yang bekerja di bursa saham karena mengenakan pakaian dan kendaraan bagus. Akhirnya Chris mencoba mendaftar magang tanpa mendapatkan gaji. Tanpa gaji, tanpa uang, ditinggalkan istri, Chris diusir dari flat tempat tinggalnya karena tak kunjung membayar sewa.

Untuk bertahan hidup, Chris setiap sore harus mengantri di penampungan tunawisma untuk mendapatkan kamar untuk tidur bersama putranya. Tak jarang Chris harus bertengkar dengan tunawisma lainnya demi mendapatkan sebuah kamar. Bahkan, diceritakan Chris pernah tidur di toilet stasiun karena tidak punya uang sama sekali. Tidak mempedulikan orang yang menggedor toilet karena ingin menggunakannya. (Saya sedih melihat scene ini. Betapa orang tua rela berbuat apapun demi anaknya). Dari film ini, saya banyak belajar, bagaimana untuk menjadi seorang Bapak. Menjadi orang tua sekaligus teman buat anak.

Pada akhirnya, Chris berhasil merubah jalan hidupnya. Dia berhasil menjadi pialang saham, karena melakukan apa yang tidak dilakukan rekan-rekan magangnya. Dia berfikir efektif untuk menjadi nomor satu. Karena memang hanya satu orang saja yang bisa lolos dari magang itu.

Film ini mengajarkan banyak hal. Tentang kerja keras, keluarga, cinta dan parenting. Kalau anda penasaran, sila ditonton sendiri filmnya.

*****

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s