: menjelang Jumat

Menjelang Jumatan. Puddle Of Mudd mengantar Blurry dari youtube. Ruang kerja yang lengang. Tertinggal penghuni dengan beraneka alasan.

Apa kabar jumatmu ini?

ini langkah semakin jauh,
tapi kejut masih saja,
seperti sore yang kemarin

ini yakinmu, ini tanyamu
bertubitubi, mengerubuti
merajai

ia yang terbuat dari rasa
tidak percaya diri
menggerogoti bagai ulat
kepada buah

aku ingin tidak
tapi kadang kuasa
lepas
tak tertangkap

kepadamu: ada rindu
yang kuikat kuatkuat
iya, padamu!
meski belum pandai betul
aku
membuat ikat

Tentang Playlist

Adzan isya sudah lalu. Malam tlah tabuh. Jogja terbuat dari panas yang terperangkap dalam mendung yang batal hujan. Bahkan mandi tak membuat panas luruh, kipas angin juga.  Hanya sejuk sesaat, semilir sekejap, panas yang awet.

Anda yang pernah bernama belakang Bunga, bersama saudari kandung bernama Bonita, mengantar sebuah lagu, yang mungkin (juga) gugat, berjudul Cukup Dalam Hati. Lagu yang terdengar seperti tanya Anda pada diri sendiri. Juga seperti mewakili gugat saya, pada diri saya yang turut mendengarnya dari Xiaomi.

Jogja malam ini. Ya, begini ini.

Lalu gugat Anda dalam Cukup Dalam Hati saya geser menjadi indah, masih bersama Anda, dalam sebuah lagu yang bernama Dalam Suatu Masa. Sebuah riang yang menjelma ruang dan dunia sendiri. Seperti mengenang entah dimana, dalam suatu masa.

Tak jelas pasti, lagu yang sudah saya akrabi sekian tahun ini, ingin menyampaikan apa. Hanya saja, rasa saya mengatakan ini indah. Seperti membawa dimensi yang lain ketika tak indah sesekali datang dan membuat kaki kadang goyah.

Usai indah bersama Dalam Suatu Masa, Lani yang menjelma Frau bila di atas panggung, mengantar Mesin Penenun Hujan. Hanya dentingan piano dan suara Lani yang enak, membuat lirik liris tentang perbedaan yang mungkin biasa, menjadi tidak biasa. Tema yang mungkin sangat biasa diangkat dalam sebuah lagu oleh penyanyi lain, tapi entah kenapa menjadi enak dalam Lani yang menjelma Frau.

Bisa jadi subjektif sekali, tapi, yaaaa, begitulah menurut saya.

Dan sudah, begitu saja. Saya mau motor-motor, menerabas angin, meminjam segarnya, menghalau gerah di badan.

Wassalam. Adios permios.

Dino Sing Nganu

Udan bablas, telung dino durung tuntas
Koyo nyonya nyanyi sing ra mati mati, unine
“Urip ki kudu”, ujar lambene
“Yen ra kudu, dudu urip” sambunge

Aku gemremeng, suarane mbenging nyang kuping,
Koyo suoro jangkrik sing ra entek-entek
Krak-krik, krak-krik

Upomo suoro jangkrik, kanggoku isih luwih apik
Gegawe mripat merem
Suorone nyonya nyanyi, gegawe ndas dadi burem, sumringah dadi mlempem

Trus aku kelingan uripku sing kerep bondas,
Banjur aku ngguyu ra ntas-ntas
“Lha kok aku goblog, mung gegoro nyonya nyanyi wae dadi bundas?”
Wong dikamplengi kahanan wae aku tahan,
Mosok urusan nyonya aku keliran

Pret, ora nganggas
Nyonya, nyanyio ben waras
Aku tak ngguyu awakmu, sing ra bakal ngrusak senengku,
Prekthes!
Pret, pret, pret.

Cacatan Pagi: Nyampah

Sabtu yang pagi, menuntaskan Kingsman Of The Secret Service yang masih separo. Film yang dibuat tahun 2014, dan mendapat rating bagus di imdb. Film yang berangkat dari buku, tapi saya baru tahu diangkat dari buku setelah nonton filmnya. (Seperti biasa, selalu begitu dengan film-film luar yang saya tonton. Maklum, beli buku dalam negeri aja jarang, apalagi buku-buku terjemahan 😁).

Film yang bercerita tentang agen rahasia, dengan segala peralatan canggihnya, yang kadang terasa mustahil untuk jadi nyata. Tapi entah, mungkin saja memang benar ada peralatan canggih seperti itu.

Lalu kopi, yang dibuat di Aceh dan kemudian diseduh di Jogja, rasanya tetap saja kopi. Enak!

Hal-hal lain yang berkaitan dengan lapar, rindu, galau, atau apapun, akan dituntaskan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Dan, mari sibuk. Sibuk santai.:mrgreen:

Ratutuk

Ballade Pour Adeline menyusup lewat udara, menjangkau telinganya, mengantar bebunyian yang membuat ia nyaman berlama-lama duduk di tempat itu. Di atas sebuah kursi yang terbuat dari semacam rotan, tergantung dengan tiang penyangga, berbentuk seperti kepompong raksasa yang berlubang dibagian sisi, untuknya duduk sekarang.

Segelas lemon tea dingin, yang ia pesan bersama sepiring onion ring, sudah tinggal separo. Ia sesap bersama sebuah buku yang tak lepas dari tatapannya dari semenjak ia duduk disana.

Ini cafe favoritnya. Bukan karena makanannya. Baginya, hanya ada dua jenis makanan di dunia ini, enak dan enak banget. Jadi, tak jadi soal macam apa makanan yang ia dapat. Tempat ini favorit, karena ada balkon di atasnya, yang langsung menghadap jalan raya. Dia selalu suka, tempat yang memiliki balkon seperti itu.

#ratutuk

Rapal Minum Kopi

Kopi yang tuntas, bersama pagi yang mengantar TV masuk ruang-ruang pribadi. Sepagi ini, hiruk-pikuk dunia sudah menjadi sarapan pagi. Memaksa dikunyah, dikunyah dan dikunyah lagi. Peduli rasanya masam, atau bikin gigi berkarat. Harus! Karena itu prasyarat kau menjadi manusia masa kini.

Beruntung kopi masih setia hadir, dalam setiap jeda. Selalu dan selalu, memberi rasa yang istimewa.

ia yang bertanya sejati,
tapi tak mencari
tersesat dalam sempit
akalnya tak menjangkau

ia yang bermimpi sejati
berdiam diri
tapi mimpi besar
menjadi sejatinya

ah, mari ngopi
ngopi, ngopi, ngopi
rapal mantra minum kopi
ngopi, ngopi, ngopi